Angin Hutan Cemara

Angin hutan cemara
Ditegur fajar
Buru-buru bangkit
Menyongsong petani
Yang bergegas naik
Ke lamping gunung
Ke ladang luas
Dimana harapan berkecambah hijau
Semakin hijau

Rahmat

Angin lembut
Yang menjamah ladangmu
Meyepoikan puisi
Membisikan lagu juang tanpa akhir

Sungai Pesangan

Gunung Singah Mata

Dari puncak Singah Mata
Memandang ke bawah
Kelembah pagi
Ke liku-liku senyap
 
Dari puncak Singah Mata
Meyaksikan awan
Berguguran
Berkas-berkas caya
Turun kerimbun pohon
Burung – burung
Hinggap dan terbang
Kijang-kijang berkejaran
Di panas bertelau
Pekik dan ciap
Meriangi siang hari
Panorama abadi
Mengusir keresahan

Kabar

Dalam cahaya senja
Suratmu tiba
Baris-baris puisi
Berdiri
Menatapku
Bola-bola matamu
Memandangku
Memandang

Desa Lumut

Dihutan-hutan tua
Jip merambat-rambat
Kemudian merangkak
Masuk desa lumut
Gerbang sepi lama menanti
Pecah dideru mesin
Gadis-gadis meninggalkan pingitan
Berhamburan ke jalanan
Anak-anak menangis
Ibu-ibu menganga
Ah, benar juga cerita
Pedati besi tanpa ditarik
Dapat jalan sendiri

Buat Pamong

Kami sudah tahu
Kami akan nyanyi indah sekali
Jadi jangan senandungkan lagu biru
Kami sudah tahu
Bapak butuh tugu buat diri
Percuma itu semuan merdu
Malam tak selalu purnama
Bintang timbul bintang tenggelam

Kutacane

Sebuah kota berpagar gunung
Matahari terik langit biru
Tanah subur bersukur
Memercikkan tanaman
Berkat keringat tumpah

Lawe Bulan

Hati gelisah reda oleh kecipakmu
Air mu jernih rela menerima
Tubuh berlumpur hitam keringatan

Ise Ise

Daunan menghijau
Di ujungnya matahari bertengger
Tarian kemilau
Kuncup-kuncup bermekahan
Lalu pagi
Tiba-tiba jadi wangi
Dibawah kali mengalir
Tertegun-tegun
Batu-batu ah
Mana hiraukan rintihnya