Setiap kutempuh perjalanan itu
Antara Pangkalpinang, Sungailiat ke Belinyu
Ku ingat pesanmu
Pandanglah alam sekitar
Dan nikmati sesuatu yang segar
Riap dedaunan yang hijau
Memang kulihat alam sekitar
Cuaca dan angin bergetar
Serta ku pandang dedaunan hijau
Tapi yang tampak
Dilembar dedaunan itu
Wajah Depati Amir yang berdebu
Namun tersenyum padaku
Bagai mengucap salam
Kepada seorang pendatang
Kini benar-benar nampak
Sesuatu yang tak bergerak
Jauh tertimbun debu sejarah
Tapi bagai bunga ia merekah
Seorang lelaki yang gagah
Yang berjuang membela negeri
Yang berkorban untuk anak negeri
Setiap kutempuh perjalanan itu
Antara Pangkalpinang, Sungailiat ke Belinyu
Yang nampak di lembar daun itu
Adegan sejarah masa lalu
Depati Amir dan kawan-kawan
Bergerilya di dalam hutan
Melawan Belanda habis-habisan
Ada pula lembar daun yang lain
Bagai cermin
Ia menampakkan penghinatan
Sehingga persembunyian Depati Amir ditemukan
Lalu dibuang jauh ke Kupang
Dan disanalah ia kelak menemukan pintu
Untuk bertemu dengan Yang Maha Tahu
Setiap kutempuh perjalanan itu
Antara Pangkalpinang, Sungailiat dan Belinyu
Yang nampak diribuan lembar daun itu
Uraian sejarah masa lalu
Ketika ku ingin tahu tentang masa kini
Ku cari di lembar daun itu
Tak ketemu
Ku periksa lembar demi lembar
Tak ketemu
Dalam hati aku bertanya
Apakah lembar daun yang bertebaran
Antara Pangkal Pinang, Sungailiat dan Belinyu
Yang jutaan jumlahnya
Tak selebarpun suka menggoreskan
Nasib zaman ini
Zaman dimana akhlak rusak
Dan moralpun luluh lantak
P. Pinang, 26 Desember 2003
DIarsipkan di bawah: Langit Senja Negeri Timah