Posted on Juni 14, 2008 by lkara
Inilah perjalanan yang menakjubkan
Memang tak ada bulan
Namun ada nyanyian
Yang menghibur kesedihan
Sepanjang jalan pulang
Menuju Mentok dari Pangkalpinang
Pangkalpinang – mentok, 6 Januari 2003
DIarsipkan di bawah: Langit Senja Negeri Timah | Leave a Comment »
Posted on Juni 14, 2008 by lkara
Kepakkan sayapmu dan terbanglah
Tembus kabut lalu berenanglah diatas awan
Aku disini dipantai Toboali
Hanya bisa melambai
Dengan mulut bergetar
Mendoakanmu
DIarsipkan di bawah: Langit Senja Negeri Timah | Leave a Comment »
Posted on Juni 14, 2008 by lkara
Pagi itu kau mengirim salam
Dan menyambutku, bisikmu
Gemulai gerak tari seudati
Sepintu sedulang persembahan kami
Kehadiran tuan di pulau kami berkesan di hati
Semoga sua kita awal suatu persahabatan sejati
Pangkalpinang, 17 Desember 2003
DIarsipkan di bawah: Langit Senja Negeri Timah | Leave a Comment »
Posted on Juni 14, 2008 by lkara
Kau pergi melewati rumahku
Lalu terbang ke negeri jauh
Keseberang pulau
Aku sendiri menunggu kabar
Tentang kepergianmu
Hanya cahaya berkilau
Masuk lewat pintu
Pangkalpinang, 29 Des 2003
DIarsipkan di bawah: Langit Senja Negeri Timah | Leave a Comment »
Posted on Juni 14, 2008 by lkara
Malam yang larut
Mengapa tak beringsut
Siapa yang kau tunggu hingga larut
Apakah kekasih diseberang laut
Malam yang larut
Telepon pun tak berdering
Di malam hening
Apakah tanda kasih kian menyusut
Pangkalpinang, 22 Desember 2003
DIarsipkan di bawah: Langit Senja Negeri Timah | Leave a Comment »
Posted on Juni 14, 2008 by lkara
Seorang murid SD menangis
Ia kehilangan sungai
Tempat ia mandi
Tempat ia mencuci
Tempat ia bermain
Adalah sungai
Beri aku sungaiku, tangisnya
DIarsipkan di bawah: Langit Senja Negeri Timah | Leave a Comment »
Posted on Juni 14, 2008 by lkara
Dalam ucapan yang sederhana Nasri Lisma berpesan ‘pintu surga cepatlah diraih’. Pesan itu diucapkan bagai pesan seorang ulama dalam ceramah keagamaan. Namun Nasri Lisma mengungkap larik itu dalam lantunan suara yang berdendang. Karena ia membubuhkan baris kalimat itu dalam nyanyian berirama campuran India dan Melayu.
DIarsipkan di bawah: Essay | Leave a Comment »