Biarlah

Biarlah aku menulis puisi
Untuk kita
Biarlah nyanyianmu kusimpan di sana
Biarlah senyumanmu mengelopak disana

Mihrab Tua

Tubuh tua
Terpupus sudah warna-warna
Tapi kaligrafi ini
Terpatri
O mataku yang buta

Lewat Embun

Lewat embun
Lewat sunyi
Suara azan subuh itu
Menyelinap kamarku

Padamkan

 
Bagai suara ibuku
Ia berbisik
Padamkan lampu
Kunci pintu
Lalu tidurlah
Aku lelah

Di Sebuah Istana Tua

Sambil menaiki tangga
Kurasa telapak kaki ku
Menyentuh jejekmu dulu
Yang tersimpan pualam putih itu

Medan Kotaku

Medan
Lemparkan aku kembali
Kelorong-lorong jalan kota mu
Akan kucari bekas kakiku dulu
Yang tertutup debu
Akan kucari tetes keringatku dulu
Yang menyirami bumi mu

Bunga

Subuh itu ada yang memetik bunga
Disusunya di gelas kaca
Ditaruhnya di atas meja
Terasa Cezanne tiba
Menegaskan warna
Memberi kesegaran rasa
Yang sudah lama sirna
 
 
Jakarta, Februari 1986

Catatan Pada Daun

Kau mencatat pada daun
Sebuah pesan
Ketika langit sangat biru
Tanpa awan

Ke Laut

Ia pergi kelaut
Mencari ombak
Mencari kabut
 
Jutaan helai rambut
Gugur dari angkasa
Dari langit luka
Menerpa wajahnya

Percakapan

Katakan apa yang ingin kau katakan,
Kata pantai pada ombak
Tak ada yang ingin ku katakan,
Jawab ombak
Aku rindu pada kata-katamu sekarang,
Kata pantai
Aku tak ingin berkata-kata sekarang,
Jawab ombak
 
Langit gelap
Bulan tak ada
Bintang tak ada
Bumi gelap
 
Ayolah kalau begitu berbisik sajalah
Aku tak mau berbisik
 
Sunyi sekitar
Daun tak bergetar
Alam terhampar
Dengan sabar
 
Kalau [...]