Tiba-tiba ada gembalau di hati
Bagai gelombang
Bagai angin
Menderu
Ke daerah tak bertepi
Mungkin ke hatimu yang sunyi
Takengon, 5 Agustus 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Tiba-tiba ada gembalau di hati
Bagai gelombang
Bagai angin
Menderu
Ke daerah tak bertepi
Mungkin ke hatimu yang sunyi
Takengon, 5 Agustus 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Tuhan
Aku perlu matahari
Sinar yang kau hamparkan
Bagi umat semesta
Tapi aku perlu juga
Sinar mata kekasih
Sinar mata yang menggorek dosa
Dan menggantinya
Dengan amal dan iman
Lamprik, 9 Agustus 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Pagi ini
Seperti ada yang menitik ke bumi
Barangkali embun
Atau gerimis sunyi
Atau desah syair sepi
Pagi ini
Seperti ada yang bergumam di bumi
Barangkali suaramu
Atau jerit luka
Atau tusukan syairmu
Ke hulu hati
Pagi ini
Seperti terdengar kersik angin
Atau percik keringat bumi
Mengguratkan namamu
Di pualam abadi
Sigli, 20 Juli 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Siapa yang masih mendengar suara
Yang bangkit dari rumput
Siapa yang masih mendengar suara
Yang mengalir dari air
Siapa yang masih mendengar suara
Yang menjerit dari tanah
Dari daun
Dari pohon
Dari duri
Dihutan Tangse ini
Suara serak parau
Suara wanita
Yang berkata
Jangan sentuh aku
Jangan
Meski aku haus
Dan kau tawarkan air minum
Jangan sentuh aku
Meski lukaku menganga
Dan kau ingin membalutnya
Jangan
Jangan sentuh kulitku
Kerena kau kafir
Musuhku
Banda Aceh, 2 Agustus 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Malam itu
Aku
Seperti terlempar
Di kotamu
Aku memang tidak punya apa-apa
Dan tak mencari siapa-siapa
Jendela dan pintu
Telah tertutup untuk ku
Angin dengan leluasa
Merubuhkan tubuhku
Di emper-emper toko
Dan got jalanan
Tapi mimpiku mengalir
Bersama sunyi
Mencari jejakmu
Sampai dini hari
Penayung, 8 Agustus 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Wahai
Bila kelak
Kau berangkat
Memetik bunga
Dan menari
Sepanjang jalan raya
Lemparkan aku di pasir
Aku akan tinggal di pasir
Aku akan berumah dipasir
Aku akan tidur di pasir
Aku akan mengutip nyanyianmu di pasir
Aku akan meraba kasihmu di pasir
Di pasir
Rindu kita akan tetap mengalir
Jakarta, 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Seperti awan
Menjamah punggung bukit di jauhan
Begitu jemariku
Penuh kasih
Penuh rindu
Sebuah perjalanan malam
Sudah kita lalui
Perjalanan rindu
Antara awan dan bukit
Antara kau dan aku
Jakarta, 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Kening bulan
Bagai perak berkilau
Bersinar oleh cahaya iman
Yang selalu melekat
Di sajadah
Kening bulan
Bagai perak berkilau
Mendekatlah
Kepada angin kembara
Yang nestapa
Yang mencari
Dan mengembara
Di belantara dunia
Mendekatlah
O kening bulan
Angin kembara
Ingin mengecupnya
Untuk melepas risaunya
Jakarta, 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Kau rajut daun
Dengan benang kasih
Kau susun pasir
Dengan nada rindu
Menyiapkan kasurku
Untuk tergolek tidur
Dan mimpi
Di sampingmu
Ujung Bate, 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »