Ise Ise

Daunan menghijau
Di ujungnya matahari bertengger
Tarian kemilau
Kuncup-kuncup bermekahan
Lalu pagi
Tiba-tiba jadi wangi
Dibawah kali mengalir
Tertegun-tegun
Batu-batu ah
Mana hiraukan rintihnya

Laut Tawarku

Di lereng-lereng gunung menujumu
Di atas bus yang menderu
Detak hati kian keras
Kuatir nasibmu
Sore itu
 
Parasmu diusap senja
Alangkah tenang
Salam sederhana kau ulurkan padaku
Tanpa iringan gelombang
Ataupun pikatan kecipak riak
Pertanda bulan akan mengambang

Genderang Perang

 Malam itu
Kugigit sisa benang penjahit bajumu kandaku
Ku gigit dengan gigiku runcing
 
Kudengar merdunya genderang perang  
Menyerumu kembali
Dari istirahat hanya sebentar
Untuk tampil lagi ke medan

Kau Bunda Disamping Ibuku

Sekian tahun pergi
Kini kembali
Berjuntai dalam airmu segar
Kusaksikan keluasanmu
Kian membiru
Kian terbuka
Namun memendam
Resia paling dalam

Pagi Di Burni Telong

Pada mulanya seberkas sinar
Menghinggapkan gerlap di Burni Telong
Lalu gelap dan kabut menyingkir Biar perjalanan jauh masih
Dan badan terkulai lungai
Namun hasrat jati di hati
Tetap marak pada tujuan

Dengan Setia Yang Marak

Biar perjalanan jauh masih
Dan badan terkulai lungai
Namun hasrat jati di hati
Tetap marak pada tujuan
 
Kemboja di dalam taman
Menaungi jasad kejang dan dingin
Tergeletak diam pada lahirnya
Pada batinnya meneruskan perjalanan
Sungguh teramat jauh ujung
Oleh ramai onak di pangkal jalan
Tapi relai sakit dan senang
Di jalanan Ia tentukan
 
Langkah barulah berarti dilangkahkan
Dengan setia yang marak kepada-Mu, Tuhan

Angin Danau

Pengembara udara danau
Bisikkan daku resiamu mengatur ombak
Hingga perahu berlayar atas desahmu
Ikan berenangan di bawah lenganmu
 
Pengembara udara danau
Kisahkan daku peri perkasa tebing-tebing curam
Batu-batu bergantungan sunyi
Cemara menyanyi
Di tepian yang sabar menanti
 
Sahabat
Kuakkan kabut
Lepas caya sepenuhnya
Menimpa paras pagi tersipu
Agar pondok terkejut bangun
Dan manusia bangkit buru-buru
 
Nanti bila warna senja bergayutan
O, pengembara gelisah
Rebahlah sekejap
Biar limpur gundah bundaku
Dalam senyap yang labuhkan [...]

Angin Danau

Pengembara udara danau
Bisikkan daku resiamu mengatur ombak
Hingga perahu berlayar atas desahmu
Ikan berenangan di bawah lenganmu
 
Pengembara udara danau
Kisahkan daku peri perkasa tebing-tebing curam
Batu-batu bergantungan sunyi
Cemara menyanyi
Di tepian yang sabar menanti
 
Sahabat
Kuakkan kabut
Lepas caya sepenuhnya
Menimpa paras pagi tersipu
Agar pondok terkejut bangun
Dan manusia bangkit buru-buru
 
Nanti bila warna senja bergayutan
O, pengembara gelisah
Rebahlah sekejap
Biar limpur gundah bundaku
Dalam senyap yang labuhkan [...]

Nyanyian Bunga

Aku barangkali
Tak memerlukan pena lagi
Untuk menulis kata
Karena kata
Telah dibawa cahaya

Di Bawah Hujan

Dibawah hujan bagai kapas
Siang itu
Aku mencarimu
Tetapi hanya gerimis
Yang melintas
 
Ada daun luruh
Membuat hening
Melengkapkan sunyi
Pencarianku
 
 
Yogya, 27 Maret 1986