Tgk Ashaluddin dilahirkan di Isaq, Aceh Tengah, tahun l9l7. Pendidikan SR (SD) ditempuhnya pada tahun l927. Kemudian belajar mengaji pada beberapa ulama seperti, Tgk M.Hasbi Ash Shiddieqy, Ustad Saleh Syarif dan lain-lain.
Ketika belajar pada Tgk Hasbi Ash Shiddieqy, Tgk Ashaluddin harus menempuh perjalanan dari Takengon menuju Banda Aceh. ‘Mula-mula naik bus dari Takengon – Bireun dengan ongkos 75 sen. Kemudian dengan kereta api, Bireun – Banda Aceh. Ongkos keretapi lebih murah’, tutur Tgk Ashaluddin. Menurut ingatan ulama ini yang kini sudah berusia 8l tahun, beliau belajar pada Tgk Hasbi lebih kurang lebih setahun.Ia juga pernah belajar pada ustad Saleh Syarif yang berasal dari Batu Sangkar.
Sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi Tgk Ashaluddin, ketika sekali waktu beliau diajak ustad Saleh Syarif ke desa Kutelintang, Kecamatan Pegasing. Disana ustad Saleh yang juga ternyata politikus akan memberi ceramah tentang agama. Pada hari itu beramai-ramai orang datang memenuhi ruangan rumah Guru Tua Pak Kadir. Diantara yang hadir nampak Tgk Jahya beserta murid-muridnya. Ustad Saleh Syarif yang lepasan Thawalib memang memberikan ceramah hari itu cukup menarik. Bahkan bagi sejumlah orang yang mengikuti ceramah yang disampaikan ustad Saleh cukup mengesankan. Tgk Yahya yang kini disebut orang sebagai pelopor Syaer Gayo pada saat itu sempat menitikkan air mata.
Menurut Tgk Ashaluddin, kehidupan ustad Saleh Syarif memang cukup menarik. Selain dia mengajar mengaji, juga sehari-hari bekerja sebagai tukang dobi. Tidak diketahui apakah Tgk Ashaluddin juga belajar mendobi. Tapi yang jelas sebagai putra Gayo yang lahir di Isaq (ibu kota kerajaan Lingge), Tgk Ashaluddin amat dekat dengan alam sekitar yang memiliki lapangan luas dan bukit serta pegunungan. Tak heran jika kemudian beliau tertarik menapaki alam luas dengan rumput menghijau sambil memelihara sejumlah kerbau.
Begitulah ketika akan berpisah di rumahnya di jln Mersa, akhir bulan Juli l998 itu, beliau sudah bersiap-siap menunggu jemputan akan pergi ke desa Lane tempat sejumlah kerbaunya dipelihara. Pada usia tuanya dengan tongkat ditangan dan jalan tertatih-tatih Tgk Ashaluddin sang penyair yang memungut puisi dari kata-kata mutiara akan meneruskan kembaranya.
Menurut Tgk Ashaluddin, bersama Tgk Mudekala ia sering diundang untuk mengadakan syaer di beberapa kampung. Salah seorang ceh Syaer Gayo yang terkenal dimasa itu adalah Tgk Loyang (orang tuanya Drs Alim Amin).
- Menurut Tgk Ashaluddin yang pernah mengaji di Meulabuh, daerah Bakongan terkenal dengan panglima Tgk M.Ali. Bila M.Ali akan berperang menghadapi musuh Belanda biasanya turun awan tebal. Sehingga M.Ali tak nampak lagi. Sementara itu panglima Ali dengan leluasa mencincang tentara Belanda.
Dalam buku bunga ramai ini dimuat syairnya:
Kalimah Tujuh
Tgk. Ashaluddin
KALIMAH TUJUH
Gere ara lain tuhen
Melainkan Tuhen Allah
Nabi Muhammad i kirim Allah
Mah peraturen ku hamba Allah
Nabi Muhammad Rasulni Tuhen
Munyawahan suruh tegah
Suruh tegah isawahan Rasul
Kati enti murakul benar urum salah
Gelah tetap ingeti Tuhen
Enti lupen wan senang susah
Wan senang susah ingeti Tuhen
Oya baru imen i yakui syah
Mendepet nikmat i puji Tuhen
Gelah i ucepen ingeti Tuhen
Ke wanni belepe ingeti Tuhen
Mudah-mudahan mendepet luah
Oya bele kin pengujin
Si berimen suci i sone i erah
Nge kuwan bele baru i betih
Si berimen pedih depet teridah
Bier baring kune perputeren zaman
Iktiket ku Tuhen enti minah-minah
Kati depet ridho ni Tuhen
Gelah i bueten si benar perintah
Ridhoni Tuhen kul faedahe
Sa mendepete we jema mutuah
Akalimah tujuh leloni ate
Sa muningetie gere gelisah
Gere gangu gere macik
Gere usik gere gunah
DIarsipkan di bawah: Syair Gayo