AZHARI bakat kepengarangannya terlihat ketika terpilih sebagai cerpenis terbaik tahun 1999 (versi Taman Budaya Aceh). Anak muda ini dikenal juga dengan nama samaran Harry Antivoice. Dia dilahirkan di Banda Aceh, 5 Oktober 1981. Sebagai anak muda yang kreatif dia pernah dipercaya memangku jabatan dalam berbagai kegiatan antara lain; sebagai ketua redaksi pers pergerakan pelajar Aceh KaPA post (1999), redaktur budaya (tamu) di tabloid berita mingguan media Kutaraja. Selain itu, juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Institut Tukang Ceritra Nusantara (ITCN), dan Komunitas Gerbong Budaya—semacam kelompok diskusi lintas-wacana yang meniscayakan pluralisme tinggi, juga pegiat diskusi di Kelompok Diskusi Metamorfosa. Awal tahun 2002 diundang mengikuti pertemuan Penulis Serumpun di Malaka. Cerpen pertamamya Karnaval dimuat di Harian Serambi Indonesia tahun 1999. cerpen dan essainya dimuat di Kompas, Tempo, Media Indonesia, Jawa Post, dan sejumlah media di Indonesia. Pada tahun 2004 menerbitkan buku kumpulan cerpen Perempuan Pala. Saat ini, Azhari aktif di Komunitas Tikar Pandan—sebuah kelompok kebudayaan di Banda Aceh. Komunitas ini juga menerbitkan Jurnal Kebudayaan Titik Tolak.
IBUKU BERSAYAP MERAH
Ibuku, Abah dan Dik Nong
Setelah bala aku pulang ingin melihat
Kalian dan kampung
Kukira 26 Desember cuma mimpi buruk
Tapi tak kutemukan kalian di sana
Jua Arief kecil yang cerewet
Seperti kalian, kampung kita ternyata sudah tiada
Berubah menjadi laut yang raya
Lihat ibu ada bangau putih
Berdiri dengan sebelah kaki di sudut kamarmu
Bangau itu tak bersayap merah
Seperti dulu pernah kau ceritakan padaku
Karena aku tahu bangau itu telah memberikan sayap merahnya buatmu
Agar kau peluk Abah dan Dik Nong ke dalamnya.
DIarsipkan di bawah: Biografi Seniman