BANTA A. FARIDA adalah penyair yang banyak menulis puisi bertema ketuhanan dalam bentuk sya’er (kesenian tradisional masyarakat Gayo). Ia mempunyai latar belakang pendidikan agama Islam di pasentren. Setelah menyelesaikan pendidikan agama, ia mengabdikan dirinya sebagai guru mengaji di berbagai tempat. Banta A. Farida dilahirkan di daerah Gayo, Aceh Tengah, pada tahun 1929. Perihal mengekspresikan pengalaman diri lewat seni sastra bagi Banta tidak hanya menulis puisi, tetapi juga mengaransemennya menjadi lagu serta langsung membawakan lagu gubahannya tersebut sekaligus. Salah satu puisinya berjudul “Munubah Nasib” (Merubah Nasib) yang terdiri dari 16 bait, bercerita tentang bagaimana sebenarnya manusia nasibnya. Merubah nasib manusia bukanlah Allah, tetapi atas usaha manusia itu sendiri. Walaupun demikian garisnya telah ditentukan Allah, usaha mengerjakan untuk mencapainya terletak pada diri kita masing-masing. Di dalam puisinya “Penyakit Masyarakat” yang terdiri dari 8 bait, berisikan nasehat-nasehat tentang bahayanya seseorang kalau sudah kena penyakit masyarakat. Menurut puisinya, ada lima penyakit masyarakat yakni; berjudi, mencuri, minum arak, pergaulan bebas dan malas. Sebagai seorang penyair tradisional, Banta A. Farida tergabung dalam grub “Sya’er Bebesan”. Pada tahun 1950-an seni sya’er mencapai puncak keemasannya di dataran tinggi Gayo yang kebangkitannya dipelopori oleh Tgk yahya bin Rasyid dan Tgk Abdurrahim Daudy. Pada masa inilah, penyair Banta A. Farida dengan grup Sya’er Bebesannya dalam melakukan kesenian sya’er sering berhadapan dengan penyair Tgk Abdurrahman Daudy dari grup “Sya’er Kebayakan”, dan dengan Tgk Genincis dari grup “Sya’er Kutelintang”. Seperti penyair seni sya’er lainnya, ia pun menulis puisi bertemakan hari akhirat. Salah satu puisinya yang bercerita tentang hari akhirat ialah “Tene Kiamat”. Sedangkan yang menyangkut masalah pendidikan dan tata cara bergaul, terangkum dalam puisinya yang berjudul “Bergaul”. Selain itu tema umum, dituangkannya dalam puisi berupa cerita-cerita tentang Nabi Allah. Terutama kisah Nabi Ayyub. Berikut salah satu cuplikan puisinya yang masih dalam bahasa Gayo
TAKENGON
Sentan ku panang ari Penyanyi
Wae belangi pedi rupen baur temun
Uyem rempak nge muriti
Si karna nami turunni emun
I Ponok Baru ara waih bengi
Tempat muniri sesire berpantun
Sentan ku panang ari bukit menjangan
Belanngi di jalan ku Lukup Sabun
Ku Simpang Balik kami remalan
Teles Lampahan lagu si lungun
I Timangh Gajah lues pedi belang
I daerah Tunyang atu beremun
Sentan ku panang ari gunung ujen
Daling tansaren wae mususun
Kami remalan ku umah uken
Mesgit bebesen nge munge I bangun
Oya waeh tebe kin tetiduken
Telege sumen gerele silun
Sentang ku panang ari bur ni bies
Osop-osop teles kampung pedemun
Kin sejarah jemen atente uwes
Inen mayak pukes oyala atu tamun
I ujung paking ara atu kude
Kene jema tue mungenal petemun
Sentang ku panang ari baur kelieten
Ku kampung toweren asal dene turun
Keliling laut jeroh di jelen
Perau pe simen nge merun-erun
Ari ujung baru aku mumanang
Munengon gelumang nge malun-alun
Sentang ku panang ari kayu Emi
Teles Gele lungi le dene ku kuyun
Aku mukale……………siner pagi
Tutur ni kami kire berlakun
Ku lukup badak kami bermotor
Sumur ara totor nge bene ayun
Sentang ku panang ari Silih Nara
Tanohe rata oya Belang Gurun
Kekiser kiri renyel ku celala
Ku taon pora oya uten selun
I toa ni angkup ara atu timang
Waeh mu berawang unang mukelamun
Sentan ku panang ari baur lintang
Teles mubayang ari uwo Penimun
Kami remalan renyel ku gelampang
I toa ni gelumang oyala penarun
Asal linge awal serule
Ralik ni dunie umo mujumpun
DIarsipkan di bawah: Biografi Seniman