Aku barangkali
Tak memerlukan pena lagi
Untuk menulis kata
Karena kata
Telah dibawa cahaya
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Aku barangkali
Tak memerlukan pena lagi
Untuk menulis kata
Karena kata
Telah dibawa cahaya
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Dibawah hujan bagai kapas
Siang itu
Aku mencarimu
Tetapi hanya gerimis
Yang melintas
Ada daun luruh
Membuat hening
Melengkapkan sunyi
Pencarianku
Yogya, 27 Maret 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Datanglah sakit
Sakit ya sakit
Datanglah pedih
Pedih ya pedih
Hingga sakit
Di mana- mana
Pedih
Dimana-mana
Dalam diriku
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
SORE ITU
Sore itu
Kau bernyanyi
Bersama angin
Kau bernyanyi
Bersama ombak
Kau bernyanyi
Bersama daun luruh
Kau bernyanyi
Bersama batu yang diam
Ya sore itu
Kau bernyanyi juga
Bersama syairku
Syair yang akan lahir
Dari kilau sinar matamu
Sinar mata yang menjalin
Baris-baris syairku
Ujung Bate, 8 Agustus 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Dengan sayap puisi
Ia terbang
Dari satu negeri
Ke lain negeri
Langit biru
Adalah warna bajunya
Hijau pegunungan
Adalah kesejukan hatinya
Dengan sayap puisi
Ia terbang
Dari bintang
Ke bintang
Memetik bunga cahaya
Lalu ia sebar
Ke taman-taman dunia
Ia titipkan juga
Di gubuk orang yang menderita
Jakarta, 20 Maret 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | 2 Komentar »
Kita rindu
Keteduhan pohon
Seperti kita rindu
Belai tangan ibu
Saat kita di jepit batu
Batu gelisah itu
Kita rindu
Nyanyian di bawah bulan
Seperti kita rindu
Suara ibu
Berkenan menyapu luka
Luka yang berdarah itu
Rawamangun, 6 Maret 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Lewat sisa gerimis di kaca
Kita saksikan rimba
Rimba yang tertutup kabut
Dan bukitpun dilingkup senyap
Cipayung, 7 Maret 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Dibalik kaca
Kau berseru
Bulan, bulan
Bulan manis
Tanpa gerimis
Mengapung di rimba Sumatra
Mengapung di Selat Malaka
Dibalik kaca
Kau membaca
Syair purba
Bintang terang
Berkedip cemerlang
Diatas rimba Sumatra
Di atas selat Malaka
Di balik kaca
Mengalir nyanyian bunga
Persembahan perdana
Bagi alam semesta
Jakarta, 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Jangan terbangi hutan
Agar mata air terus mengalir
Mata air bagi sawah
Mata air bagi pengembara
Dan kerongkongan yang kering
Jangan ganggu keteduhan
Agar mata air terus mengalir
Mata air bagi syairku
Mata air bagi penyair
Dan pena yang dahaga
O keteduhanmu
Kekasih
Jangan ganggu ia
Dengan nafsu, iri dan dengki
O keteduhanmu
Kekasih
Peliharalah dengan kasih
Dengan doa
Dan iman kepada Nya
Lamprik, 9 Agustus 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »
Kau bertanya tentang lukaku
Aku bertanya tentang lukamu
Kita saling bertanya
Lalu
Kita saling
Merendam diri dalam cuka
Banda Aceh, 4 Agustus 1986
DIarsipkan di bawah: Dalam Mawar | Leave a Comment »