Langit Senja Negeri Timah

 

L.K.Ara

 

LANGIT SENJA NEGERI TIMAH

 

Antologi

 

 

 


 

PERJALANAN

 

Setiap kutempuh perjalanan  itu

Antara Pangkalpinang, Sungailiat ke Belinyu

Ku ingat pesanmu

Pandanglah alam sekitar

Dan nikmati  sesuatu  yang segar

Riap dedaunan yang hijau

 

 Memang kulihat alam sekitar

Cuaca dan angin bergetar

Serta ku pandang dedaunan hijau

Tapi yang tampak

Dilembar dedaunan itu

Wajah Depati Amir yang berdebu

Namun tersenyum padaku

Bagai mengucap salam

Kepada seorang pendatang

Kini benar-benar nampak

Sesuatu yang tak bergerak

Jauh tertimbun debu sejarah

Tapi bagai bunga ia merekah

Seorang lelaki yang gagah

Yang berjuang membela negeri

Yang berkorban untuk anak negeri

 

Setiap kutempuh perjalanan itu

Antara Pangkalpinang, Sungailiat ke Belinyu

Yang nampak di lembar daun itu

Adegan  sejarah masa lalu

Depati Amir dan kawan-kawan

Bergerilya di dalam hutan

Melawan Belanda habis-habisan

Ada pula lembar daun yang lain

Bagai cermin

Ia menampakkan penghinatan

Sehingga persembunyian Depati Amir ditemukan

Lalu dibuang jauh ke Kupang

Dan disanalah ia kelak menemukan pintu

Untuk bertemu dengan Yang Maha Tahu

 

Setiap kutempuh perjalanan itu

Antara Pangkalpinang, Sungailiat dan Belinyu

Yang nampak diribuan lembar daun itu

Uraian sejarah masa lalu

Ketika ku ingin tahu tentang masa kini

Ku cari di lembar daun itu

Tak ketemu

Ku periksa lembar demi lembar

Tak ketemu

Dalam hati aku bertanya

Apakah lembar daun yang bertebaran

Antara Pangkal Pinang, Sungailiat dan Belinyu

Yang jutaan jumlahnya

Tak selebarpun suka menggoreskan

Nasib zaman ini

Zaman dimana akhlak rusak

Dan moralpun luluh lantak

 

P. Pinang, 26 Desember 2003

 

 

 

 


SUNGAILIAT

 

Konon ketika Pangeran Tumanggung Dita tiba

Pada jejak kaki yang pertama

Dia melihat tanah ditempat itu

Liat

Lalu jejak itu

Orang menyebut daerah itu

Sungailiat

 

Entah bagaimana mulanya

Tapi yang pasti

Orang bersetuju

Dan menyepakati

Hari jadi Sungailiat

Jatuh pada

Tanggal dua puluh tujuh

Bulan empat

Tahun tujuh belas tujuh puluh enam

 

Dan bagi pengembara ini

Sungailiat tempat ia berteduh

Melonjorkan kaki

Melepas lelah

Membasuh wajah

Melekatkan dahi

Sambil mengutip puisi

 

 

Sungailiat, 29 Desember 2003

 

 

 

DIBAWAH LANGIT PANGKAL PINANG

 

Untuk Z.K.

 

1

 

Dibawah langit Pangkalpinang

Disuatu subuh yang tenang

Aku menyaksikan embun bergayutan

Disetiap daun, disetiap cabang

Pada ribuan pepohonan

Embun bergayutan

 

Siapa yang memanjakanmu, tanyaku

Tiada terdengar jawaban

Hanyya embun bergayutan

Disetiap daun di setiap cabang

Pada ribuan pepohonan

Embun bergayutan

Siapa yang memanjakanmu, tanyaku

Tiada terdengar jawaban

Hanya terdengar perlahan

Semacam gumam

Semakin kutanya

Semakin keras terdengar gumam

Ya kini semakin kentara

Semakin nyaring

Semakin pasti

Zikir yang bertubi-tubi

 

Dibawah langit Pangkalpinang

Disuatu subuh yang tenang

Telah kusaksikan

Embun menggoncang daunan

Embun menggoncang cabang

Menggoncang pepohonan

Ribuan pepohonan

Tergoncang – goncang

Oleh jutaan embun

Yang sedang mengingat Tuhan

Dalam zikir yang mengalir

Hingga ke akar pepohonan

 

2

 

Dibawah langit Pangkalpinang

Disuatu siang yang garang

Matahari menyala

Rumah dan toko – toko kepanasan

Jalanan yang dipenuhi kendaraan

Pejalan kaki yang keringatan

Semua mengalir

Seperti dalam suratan

 

Siapa yang menggerakanmu, tanyaku

Tiada jawaban

Hanya semua bergerak beraturan

Mencari dan mengolah kehidupan

Dan nafas dalam terdengar mendesah

Sangat perlahan

Bagai ratap di bumi yang basah

Siapa yang menggerakkanmu, tanyaku

Tiada jawaban

Hanya alam yang terdengar mendesah

Sangat perlahan

Kemudian bagai degerakkan

Alam bergoncang

Bergoncang dan bergoncang

Rumah dan toko-toko bergoncang  

Kendaraan bergoncang

Jalanan bergoncang

Pejalan kaki bergoncang

Semua menyebut nama Mu

Dalam zikir yang dalam

 

3

 

Dibawah langit Pangkalpinang

Disuatu malam yang nyaman

Bintang – bintang bersinaran

Disambut cahaya lampu taman

Cahaya lampu kendaraan

Cahaya lampu jalanan

Cahaya lampu rumah bertebaran

 

Siapa yang sedang membahagiakanmu, tanyaku

Tiada terdengar jawaban

Hanya cahaya berpendaran

Langit mengirim cahaya kebumi

Dan bumi bagai dalam mimpi

Menikmati

Taburan cahaya berpendaraan

Rumah dan toko-toko

Mengapung dalam cahaya

Kendaraan yang berseliweran

Dan taman serta halaman

Berbinar dalam cahaya

Siapa yang sedang membahagiakanmu, tanyaku

Tiada terdengar jawaban

Hanya cahaya berkilauan

Cahaya bertemu cahaya

Cahaya langit mengulur salam

Dan cahaya bumi menerima salam

Kemudian cahaya berpendaran

Menebar keseluruh alam

Seperti dalam suratan

Mengingat Mu dalam riang

Sehingga tak terlupakan

Lebih-lebih bila sedih datang

Mengingat Mu selalu

Zikir pada Mu selalu

 

Pangkalpinang, 23-24 Desember 2003

 

 


SHALAT MAGRIB

DITUA TUNU

 

Inilah sholat magrib yang nyaman di Tua Tunu

Disebuah mesjid tua yang tak dimakan api

Meski Belanda telah membakar seluruh kampung

 

Inilah shalat magrib yang nyaman di Tua Tunu

Disebuah masjid tua yang sederhana  

Ada tujuh saf jemaahnya

Semua berzikir kepada Mu

Mereka rakyat kecil biasa

Mendiami Desa Tua Tunu

Hingga tiga orang pegawai negeri

Ratusan yang lainnya bertani

Dan berdagang kecil-kecilan

 

Inilah shalat magrib yang nyaman di Tua Tunu

Selesai shalat menuju rumah kenalan

Pak Siri dan Ibu Salamah

Telah menyediakan rebus singkong

Kami makan dengan lahapnya

 

Tua Tunu, Pangkalpinang , 25 Des 2003

 


SAYAP

 

Kataku :

Kalau kau mengepakkan sayap

Terbang meninggalkan pulau

Apakah kau tahu

Ada yang berhati galau

Dan pulau ini

Akan terasa lebih sunyi

 

Katamu:

Terbangpun tak sekehendak hati

Kelak saksikan pulau ini tak pernah sunyi

Karena kan tiba masa

Kala putra – putri pulau

Kan kembali tuk mengabdi

 

Pangkalpinang, 24 Desember 2003

 

 


SUNGAI

 

Seorang murid SD menangis

Ia kehilangan sungai

Tempat ia mandi

Tempat ia mencuci

Tempat ia bermain

Adalah sungai

Beri aku sungaiku, tangisnya

 

Orang-orang kasihan padanya

Orang memberi mainan

Orang-orang mengirim cd

Tapi tetap ia menangis

Kembalikan sungaiku, tangisnya

 

Orang-orang tak dapat memberi sungai

Karena air sungai sudah tak ada

Sungai yang dulu airnya jernih

Kini berobah jadi kotor

Orang-orang menggali timah

Mengotori sungai

 

 

Bangka, Desember 2003

 

 


MALAM LARUT

 

Malam yang larut

Mengapa tak beringsut

Siapa yang kau tunggu hingga larut

Apakah kekasih diseberang laut

 

Malam yang larut

Telepon pun tak berdering

Di malam hening

Apakah tanda kasih kian menyusut

 

Pangkalpinang, 22 Desember 2003

 

 


KAU PERGI

 

Kau pergi melewati rumahku

Lalu terbang ke negeri jauh

Keseberang pulau

Aku sendiri menunggu kabar

Tentang  kepergianmu

Hanya cahaya berkilau

Masuk lewat pintu

 

Pangkalpinang, 29 Des 2003

 


SALAM

 

Pagi itu kau mengirim salam

Dan menyambutku, bisikmu

Gemulai gerak tari seudati

Sepintu sedulang persembahan kami

Kehadiran tuan di pulau kami berkesan di hati

Semoga sua kita awal suatu persahabatan sejati

 

Pangkalpinang, 17 Desember 2003

 

 

 


DARI TOBOALI SUATU PAGI

 

 

Kepakkan sayapmu dan terbanglah

Tembus kabut lalu berenanglah diatas awan

 

Aku disini dipantai Toboali

Hanya bisa melambai

Dengan mulut bergetar

Mendoakanmu

 

Tak banyak yang bisa kuberi

Untuk pulau ini, katamu

Sementara sayapmu disaput kabut

Tak banyak ku mohon

Hanya doa

Yang senantiasa

Kan menyertai langkahku, katamu pula

 

Sambil memandangmu terbang

Melayari awan

Aku memang hanya melambai

Dengan rasa berdebar

Dari tepi pantai

Di Toboali

Suatu pagi

 

Toboali, 26 Des 2003

 

 


TAK ADA BULAN

 

Inilah perjalanan yang menakjubkan

Memang tak ada bulan

Namun ada nyanyian

Yang menghibur kesedihan

Sepanjang jalan pulang

Menuju Mentok dari Pangkalpinang

 

Pangkalpinang – mentok, 6 Januari 2003

 

 


PANTAI TEPIAN

 

Puteri pulauku

Bolehkah aku menyebutmu begitu

Saat aku kegelapan

Dan kau memberiku lampu

Saat aku dipermainkan lautan

Dan kau menjadi pantai tepian

 

 

Pangkalpinang, 30 Desember 2003

 

 

 


BISIK

 

Ditengah keletihan

Angin sungai Baturusalah

Yang memijat-mijat lengan ku

Di tengah kerisauan

Angin sungai Baturusalah

Yang menenangkan pikiranku

Ditengah kesepian

Angin sungai Baturusalah

Datang mendesir menghiburku

Ditengah kerinduanku padamu

Angin sungai Baturusalah

Membisikkan sesuatu di telingaku

 

Pangkalpinang, 30 Desember 2003

 

 


CAHAYA

 

Cahaya di depan Bumi Asih

Pagi ini gemetar

Bagai tak sabar

Menyaksikanmu melintas

Menuju bandara

 

Angin didepan Bumi Asih

Pagi ini mewangi

Melepasmu pergi

Ia tahu sang putri

Kelak akan kembali

Membangun negeri

 

Pangkalpinang, 27 Desember 2003

 

 


MENGUTIP PANTUN

 

Ketika ku dengar

Berita duka

Di ujung negeriku

Aku sedang mencari pantun

Aku sedang tersuruk-suruk

Di kolam-kolam, dirawa-rawa

Pantun sudah terendam

Tertimbun timah dan lada

Di pulau Bangka

 

Ketika kudengar

Berita duka

Diujung negeriku

Aku sedang mengutip pantun

Serta merta kulihat

Pantun berobah jadi air mata

Menetes

Menetes dari kolam kesedihan

Kesedihan bertahun

 

Mentok, 6 Januari 2004

 


KESENYAPAN LAUT

 

Dalam kesenyapan laut yang beku

Aku ingin kau datang menari

Melenggokkan tubuh

Lalu bernyanyi

Walau untuk diri sendiri

 

Lautan akan cair

Melihat tarimu

Laut akan mengalir

Mendengar nyanyianmu

 

Pangkalpinang, 22 Desember 2003

 

 


KEINDAHAN

 

Aku mulai iri padamu

Setelah melihat Parai bersamamu

Sebuah keindahan telah lama mengasuhmu

Dan aku kemudian datang

Ingin mengecap keindahan itu

Dan kau begitu tenang

Mengulurkan keindahan Parai bagiku

Yang membuat aku malu

Kau begitu ikhlas menyambutku

Menyuguhkan keindahan bagiku

Dan itu menghapus iri

Dalam diri ini

 

Sungailiat, 28 Desember 2003

 

 

 


MEMANGGIL IBU

 

Kau tak pernah memberi tahu

Bahwa ada orang menjerit

Memangil ibu

Dipinggir pantai itu

Urat lehernya menegang

Tangannya meregang

Memanggil ibu

Kepala menunduk

Tubuh terbungkuk

Memanggil ibu

Jemari kakinya bergetar

Seluruh tubuhnya menggeletar

Memanggil ibu

Mengatasi suara ombak

Ia menjerit

Memanggil ibu

 

Kau tak pernah memberitahu 

Suara jerit itu

Mengalir dari kerongkonganmu

Dan aku nanti tak kan pernah memberitahu

Bahwa suara jerit itu telah kukenal

Sebagai suara hatimu

 

Parai, 28 Desember 2003

 


PARAI

 

Takkan kutahu dimana letak Parai

Bila tak kutunjuk arah kepinggir laut itu

Takkan kukecap madu Parai

Bila tak mengorak senyum diwajahmu

Kini Parai berderai-derai dalam kalbu

Nyanyian laut itu

Lagu sunyi tapi merdu

Kemilau cahaya pagi itu

Telah membersit dari matamu

 

Parai, teriakku

Batu-batu yang kukuh yang menjorok kelaut itu

Membawa ingatan kepada keteguhan perlawanan

Depati Amir, Batin Tikal dan Depati Barin

Yang berjuang untuk anak cucu

 

Parai, kataku tersedu

Laut yang biru yang tenang itu

Membawa ingatan kepada ketenangan pikiran

Para tokoh pejuang kita itu

 

Parai, kataku setengah terisyak

Pasir putih yang bertaburan dipantai itu

Bagai menikam yang berpercikan

Dari ucapanmu yang sederhana

Namun kini bergema

Memenuhi udara

 

Pangkalpinang, 22 Desember 2003

 

 

 


BELINYU

 

Meluncurlah kendaraan ku ke Belinyu

Meluncurlah

Kurindukan ahli pantun

Yang lahir di kaki gunung Maras

 

Yang memiliki kebiasaan yang pas

 Menulis pantun isi dulu

Sampiran setelah itu

Semangatnya kini mulai layu

Setelah berpisah dengan sahabatnya pak Su

Tapi kini setelah dijenguk pak Su

Ia membuka pintu utama

Yang sudah berdebu

Semogalah setelah itu

Pantunpun mulai menderu

 

Meluncurlah kendaraan ku ke Belinyu

Meluncurlah

Kurindu Urang Lum

Yang dikisahkan naik perahu

Diterpa gelombang sudahlah tentu

Berminggu ditengah laut melulu

Mereka datang dari jauh

Dari negeri Cina yang jauh

 

Mendarat disebuah daratan

Masuk ke Bukit Pelawan

Lalu tinggal dan menetap di pedalaman

Merekalah konon nenek moyang Urang Lum

Ada lagi kisah yang terlontar dari bibir

Ketika bukit Semidang di landa banjir

Muncul dua manusia

Mirip raksasa

Lalu orang menyebut

Merekalah nenek moyang Urang Lum

 

Meluncurlah kendaraan ku ke Belinyu

Meluncurlah

Kurindu Urang Lum

Ingin kutahu titian Taber, Puri Adat

Mata Kakap, Penunjang Langit

 

Kudengar engkau

Ada di gunung muda, Gunung Pelawan

Dan Bukit Cudung

Ingin ku tahu tanah Mapur, desa kecil

Air Abik dan desa Pejem

 

Kini berhentilah kendaraan ku

Berhentilah

Kita telah tiba di Belinyu

Kita telah bertemu ahli pantun

Yang kurindu

Kita telah mendengar kisah masa lalu

Tentang Urang Lum

Konon penduduk pertama

Yang mendiami Pulau Bangka

 

Belinyu – Sungailiat – Pangkalpinang. 20 Des 2003

 

 

 

 


BILA

 

Diatas kendaraan menuju pantai Pasir Padi

Aku ingat berita darimu

Subuh itu

Dalam hiruk pikuk kota

Dan kembang api yang gemerlap

Hatimu merasa kosong

Hampa

 

Bila hatimu hampa

Kenanglah Parai

Disana butir pasir kemilau

Menunggumu pulang dari rantau

Dan disana tergolek pula

Sebutir yang sangsai

Yang mungkin tak kau hirau

 

Pangkalpinang. 1 Jan 2004

 

 


PERCAKAPAN

 

Subuh itu nampak di kaca jendela

Goresan embun

Orang-orang kemudian membaca

Sebuah percakapan rahasia

Antara Putri pulau dan Pengembara

 

Pangkalpinang. 31 Des 2003

 

 

 

 

 

 


BATU RUSA

 

Melewati Sungai Batu Rusa

Seperti ada yang menahan langkahku  

Jembatan besi yang kukuh

Atau suaramu bernada keluh

 

Sungailiat, 27 Desember 2003

 

 


ALAM

 

Alam mempertemukan

Dan Tuhan merestui

Lalu lahirlah puisiku

Lewat desah nafasmu

 

Duri, 8 Januari 2003

 

 

 


PANTAI PASIR PADI

 

Di pantai pasir padi

Kita mendengar percakapan abadi

Percakapan ombak yang sunyi

Percakapan cinta sejati

Tentang persahabatan

Yang kau idamkan

 

Angin kencang

Yang datang dari jauh

Membawa percakapan ini

Terbang ke pulau-pulau

Menyebarkan nyanyian cinta

Yang tumbuh di hati manusia

 

Dan warna biru langit

Yang singgah ke wajahmu

Menyatu dengan biru laut

Yang telah kau genggam

Mengekalkan persahabatan

 

Pangkalpinang. 23 Des 2003

 

 


KE TOBOALI, KITA KE TOBOALI

 

Kami tambah jauh darimu

Tapi kami makin dekat

Dengan Koba dan Toboali

 

Udara langit tebal menghitam

Dan pepohonan di pelataran

Semakin temaram

Namun kami harus berjalan

Ke Koba dan Toboali

 

Ingin kulihat tapak Cheng Ho

Seorang muslim

Laksamana dan pelaut sejati

Yang berasal dari Desa He Dai

Ingin kusaksikan benteng Portugis

Yang konon bekasnya masih terguris

 

Ke Toboali, kita ke Toboali

 

Dalam sore yang indah

Kami semakin dekat ke Toboali

Daerah perjuangan

Rakyat terang terangan

Malawan penjajahan

Dibawah pimpinan Depati Amir

Depati Barin dan Depati Marawang

 

Di lembar daun sejarah

Tertulis dengan tegas

Masyarakat dan penduduk asli Suku Laut

Juga kaum Lanun tak pernah takut

Terbayang mereka menyerbu parit-parit timah Belanda

Di sekitar Sungai Kepo

Untuk merebut kembali Toboali

Lihatlah mereka maju dengan berani

Sehingga pasukan Belanda terpaksa mundur

Ke Pangkalpinang dengan teratur

 

 Di lembar daun sejarah

Juga terlukis

Tentang kota Toboali yang manis

Kota indah di pinggir lautan

Yang tumbuh jadi kota pertambangan

 

Ke Toboali, kita ke Toboali

Kota kenangan di zaman revolusi

 

Toboali, Pangkalpinang. 26 Des 2003

 

 

 


SUARA TETABUHAN

 

Dengarlah suara tetabuhan itu

Mengetuk-ngetuk telingamu

Dengarlah pula suara gerimis itu

Mengetuk-ngetuk kalbumu

 

Bagai ketukan dari pintu langit

Dan berpesan kepadamu

Jagalah adat nenek moyang

 

Dengarlah suara tabuhan itu

Bertalu-talu

Membangunkan engkau dari tidur pulasmu

 

Dengarlah suara tetabuhan itu

Dan lihatlah pula rentak tari itu

Di bawah gerimis

Di halaman terbuka pula

Di bawah hujan

 

Pangkalpinang. 13 Des 2003

 

 


EMBUN PAGI

 

Embun pagi di akhir tahun

Penuh harapan dengan santun

Pada puteri pulau yang akan terbang

Sebentar ikutlah berdendang

Baca puisi dan pantun

Untuk menyambut awal tahun

 

Sungailiat, 25 Desember 2003

 

 

 


HARUM DEDAUNAN

 

Harum dedaunan jalanan ini

Seperti pernah kutahu

Tapi kau tak di sini

Itu kutahu pasti

Apa kau mengirim dari jauh

Bagi perjalanan kami

Yang sunyi

 

Sungailiat, 28 Desember 2003

 

 


SUBUH ITU

 

Subuh itu suaramu

Nyanyian laut sedang kasmaran

Deburnya merambah kelangit jiwa

Mengejutkan bintang gemintang

Bertaburan menebar cahaya

 

Subuh itu suaramu

Gemercik air pancuran

Ceria, jernih dan mengalun

 

Pangkalpinang. 23 Des 2003

 

 

 

 

 

 


NONTON TARI CAMPAK

 

Seribu soal yang memusingkan

Beban berat yang tak terpikulkan

Kini lenyap setelah tangan diayunkan

Dan tubuh di gerakkan, bisik mu

 

Musik campak membawa kita keawan

Pantun campak membawa kita ke rembulan

Dan dunia berputar lebih keras

Bagai darah kita yang menderas

 

Nonton tari campak

Mata terpacak

Menyaksikan gerak

Sederhana tak menghentak

Namun didalam diri

Ada rasa mengayun

Bagai butir embun di ujung daun

Jernih berkilau

Melupakan risau

Seribu soal

Meski hanya sebentar

 

Dendang, 29 Desember 2003

 


PANTUN

 

Dari Pangkalpinang ke Belinyu

Singgah dulu ke Sungailiat

Kukenang sejak awal bertemu

Lalu ku rindu dalam surat

 

Mendesir angin di Pantai Parai 

Bantu kukuh menjaga pulau

Rasa ingin berhandai-handai

Aku berpeluh engkau di rantau

 

Pasir berkilau di Pantai Parai

Disebuah sudut batu samadi

Hatiku risau berdebar-debar

Rasakan kecut ketika menanti

 

Palembang, 6 Januari 2004

 

 

 

 

 

 


INGAT KURAU

 

Hati akan selalu terpaut

Pada kampung nelayan dipinggir laut

Kurau, begitu orang menyambut

Begitu kami melangkah pergi

Ada yang tak surut

Hati akan selalu terpaut

Pada kampung Kurau

Kampung nelayan di pinggir laut

Rumah sederhana berjejer

 

Ditepi sungai Kurau

Rumah berdiri diatas tiang nibung

Begitu sambung menyambung

Hati akan selalu terpaut

Pada kedamaian penduduk

Orang-orang sederhana

Nelayan pencari ikan

Untuk orang kota ia kirimkan

 

Hati akan selalu terpaut 

Pada Kurau

Pada air sungaimu yang coklat

Pada tiang – tiang nibung

Tempat Kario merenung

Tepat Kario berpantun

 

Hati akan selalu terpaut

Pada Kurau

Kampung bersungai coklat

Tempat Kario mencatat

Nasib zaman yang coklat

Di lembar yang bersih

Dengan bahasa jernih

 

Kurau – Jakarta, 26 Des 2003 – 22 Jan 2004

 

 


KEPADA PEMANTUN TUA

 

Untuk TS

 

Inilah pertama kali

Kaki kujejakkan di ubin mar-mar ini

Di pendopo Toboali, bisiknya

 

Dia memang hanya  seorang tua

Pemantun dengan tubuh ringkih

Dan rambut memutih

Yang boleh saja orang lupa

Sengaja atau tak sengaja

Tapi mungkin ada sesuatu

Yang orang sukar lupa

Dari tubuh ringgkih ini

Yakni pesan dan budi

Yang ia susun dan patri

Dalam baris-baris pantun

Selama bertahun-tahun

Yang ini memang orang sukar lupa

Karena setiap di baca

Baris-barisnya akan menyala

Menerangi nurani pembaca

 

Jakarta, 17 Januari 2004

 


PERTEMUAN

 

Hari ini dimana kita bertemu kekasih

Koba sudah tertinggal

Air Gegas baru kulalui

Dimana kita berjumpa,  wahai kekasih

 

Jam demi jam

Berdentangan

Mengingatkan pertemuan

Tapi dimana wahai kekasih kita bertemu

 

Ombak laut berdebur

Berdebur dan berdebur

Bersahutan dengan debur di hati

Membangunkan rindu yang sunyi

 

Ternyata di sini kita bertemu kekasih

 Di Toboali, dirumahmu yang bersih

Terimalah aku bersimpuh

Menyerahkan diri pada Mu

Hanya pada Mu

 

Toboali, 25 Desember 2003

 


LANGIT SENJA NEGERI TIMAH

 

Warna senja terhampar

Di negeri timah

Saksikanlah, katamu

Negeri timah

Negeri yang penuh berkah

Dalam warna senja yang mewah

Senya yang ramah

Menyapa pepohonan dan bebukitan

Menyapa pantai dan lautan

Menyapa petani dan nelayan

 

Warna senja terhampar

Di negeri timah

Nikmatilah, katamu

Dan negeri timahpun berhias

Dalam cahaya gemerlapan

Dalam hias berkilau

Dalam warna langit keemasan

Dan bumi keperakan

 

Toboali, 15 Mei 2004

 

 

 

 

 

 

 

 

 


MENYAKSIKAN FAJAR DI TOBOALI

 

              Untuk MZK

 

Telah kusaksikan fajar di Toboali

Fajar dengan berkas cahaya

Meretas kegelapan

Fajar dengan sinar kegelapan

Berbinar – binar

Menembus keremangan

 

Telah kusaksikan fajar di Toboali

Fajar bertangan ajaib

Mengusir kebodohan

Mengusir kemiskinan

Fajar berlidah fasih

Mengusir kegelisahan

Mengusir kecemasan

Fajar berhati kasih

Menawarkan kebersamaan

Membina kesejahteraan

 

Telah kusaksikan fajar di Toboali

Ya Tuhan

Benar – benar telah kusaksikan

Fajar di Toboali

Dengan warna berkilauan

Menawarkan kebahagiaan

 

Toboali, 15 Mei 2004

 

 

 

 

 

MENGHITUNG OMBAK

DI GUNUNG SAMAK

 

Mari mendaki ke Gunung Samak

Hingga tiba di puncak

Lalu lepaskan pandangan kesegala yang nampak

Saksikan alam yang bergerak

Saksikan alam yang berdetak

Lalu angkat tangan mu ke atas

Rasakan angin di jemari yang lepas

Lalu rebahkan tubuhmu

Hingga menyentuh rumputan

Rasakan cinta yang besahutan

Dan kini mulailah menghitung ombak

 

Manggar, 7 Juni 2004

 

 

 

 


SUNGAI LENGGANG MELENGGANG

 

Sungai Lenggang melenggang

Dan Saderi pun melenggang

 

Sungai lenggang melenggang

Membawa celoteh alam sekitar

Dan Saderi pun melenggang

Membawa nyanyian kocak yang segar

 

Sungai lenggang melenggang

Membawa merdu nyanyian gunung

Dan Saderi pun melenggang

Membawa syair kedalaman renung

 

Sungai lenggang melenggang

Membawa arus air ke kuala

Dan Saderi pun melenggang

Membawa suara hati ke laut jiwa

 

Sungai lenggang

Memberi nyanyi pada Saderi

Dan Saderi

Memeberi puisi pada sungai Lenggang

Mereke memang saling berlenggang

Dan saling gantung bergantung

Di kampung Gantung

          

Manggar, 7 Juni 2004

 

 

 

 

DIANTARA DUA SUNGAI

 

Dia bersedih duduk diantara dua sungai

Dia menangis bersimpuh di antara dua sungai

Dia merunduk terbungkuk di antara dua sungai

Dia tengadah kelangit diantara dua sungai

Sungai Buding yang bernyanyi nyaring

Sungai Lenggang yang mengalir tenang

Buding engkaulah sungai yang membasuh jiwa yang luka

Lenggang engkaulah sungai yang meneduhkan jiwa yang resah

Dari seorang pertapa yang ingin menuntut bela

 

Dia bersenandung diantara dua sungai

Dia merenung diantara dua sungai

Dia berharap di antara dua sungai

Dia berdoa di antara dua sungai

Sungai Buding dan sungai Lenggang

Engkaulah sungai yang memberi kesejukan

Bagi jiwa yang panas membara

Bagi jiwa yang ingin menuntut bela

Atas kematian ayahanda

 

Dia bertapa diantara dua sungai yang mengalir

Jiwanya mengalir bersama sungai yang mengalir

Jiwanya yang mengalir kesamudra cinta

Samudra Cinta Maha Besar

Allah Allah Allah

 

Manggar – Toboali, 8-15 2004

 

 

 

 

 

PANTAI BURUNG MANDI

 

Ketika menjejakkan kaki

Pertama kali

Dipantai Burung Mandi

Langit sangatlah bersih

Ketika itu

Pantai sangatlah tenang

Ketika itu

Ombak bernyanyi merdu

Ketika itu

Angin bertiup sejuk

Ketika itu

Udara sangatlah nyaman

Ketika itu

 

Enam abad yang lalu

Bagai terbayang

Seorang lelaki dari Pasai

Menjejakkan kaki pertama kali

Di pantai Burung Mandi

Mungkin pantai taklah tenang

Ombak tak bernyanyi

Dan angin tak bertiup sejuk

Dan udara taklah nyaman

Karena lanun sang perampok

Menjemputmu

Dengan mata merah

Dan pedang di tangan

 

Tapi lelaki dari Pasai itu

Tetaplah menjejakan kaki

Di pantai Burung Mandi

Karena tekad dalam  hati

Ada yang akan diberi

Sesuatu yang berarti

Mudah-mudahan diberkahi Illahi

 

Orang-orang memang telah menjauh

Berumah ke daratan

Ke dalam hutan

Dan Pantai Burung Mandi ditinggalkan

Takut pada lanun

Sang perampok

Harta dan para kaum wanita

Dia boyong semuanya

 

Lelaki dari Pasai itu bertahan

Lalu membangun rumah di Menangan

Sambil bercocok tanam

Faham agama Islam dikembangkan

 

Lelaki dari Pasai itu

Bernama Jakfar

Seorang lelaki yang pintar

Bersungguh-sungguh namun

Kadang suka berkelekar

Kelak nama beliau dikenal

Sebagai Datuk Jakfar

 

Datuk Jakfar bersama keluarga

Hidup sederhana

Gemar bercocok tanam

Sambil menyebar agama Islam

Hingga usia lanjut

Tak pernah surut

Menyebar agama Islam

 

Bagai menyebar tanaman

Yang selalu tumbuh

Yang Alhamdulillah

Selalu diberkahi

Sehingga agama Islam

Menyebar keseluruh negeri

Menyebar kesetiap hati

 

Seorang lelaki dari Pasai

Semakin menua

Dan lanjutlah usia

Serta tibalah saatnya

Untuk kembali

Keharibaan Illahi

Orang – orang kemudian

Memberi gelar kehormatan

Keramat Menangan

 

 

Manggar, 8 Juni 2004

 

 


SUNGAI BUDING

 

Engkaulah sungai pertama

Yang membasuh kakinya

Dari Lumpur dan debu

Dari perjalanan jauh

Ketika menjejakkan kaki

Pertama kali

Di Belitung ini

 

Engkaulah sungai pertama

Yang membasuh tubuhnya

Dari daki dunia

Dalam kembara

Engkaulah sungai pertama

Yang membasuh wajahnya

Ketika sholat pertama

Suatu hari

Di Belitung ini

 

Engkaulah sungai pertama

Yang memberi kesejukan

Yang menerima kehadiran

Ketika mengadakan perjalanan

Menuju daratan

Tempat musafir mampir

Syeh Abubakar Abdullah

Untuk sekian lama

Menyebar agama

 

Sungai Buding

Sungai yang bening engkaupun tahu

Ketika tamu mu yang satu itu

Meninggal dunia

Mayatnya di bungkus

Dengan kulit kayu kepang

Maka tesebarlah harum wangi

Padahal sudah dikubur dua puluh hari

Lalu digali

Dan sesuai pesanmu

Mayatmu dikubur

Di antara bumi dan langit

Dan tempat itu ditafsirkan

Di Gunung Tajam

 

Manggar – Toboali, 8-25 Juni 2004

 


SURAT DARI MENUMBING

 

 

Dapatkah anda membayangkan

Hari ini

Pada tahun 2004 ini

Tiba-tiba

Anda menerima surat

Dari Menumbing

Dari seseorang yang anda kenal

Bahkan tulisannya pun anda kenal

Bertahun 1949

 

Surat itu meluncur begitu saja

Dibawa angin Bangka

Melayang-layang di udara

Lalu turun

Jatuh keharibaan anda

 

Begitu anda membuka sampulnya

Surat itu pun terhidang

Tulisanya amatlah terang

Miring ke kanan gayanya

Bahasanya sederhana

Jelas kata-katanya

Maksudnya pun langsung tertangkap

Oleh kita

 

Mari kita membacanya

Beginilah antara lain bunyinya

Kegembiraan rakyat di Bangka

Tentang cita-cita kebangsaan

Dan kemerdekaan bangsa

Adalah besar

Pekik merdeka

Adalah salam rakyat

Diseluruh kepulauan ini

 

Surat itu memang bicara tentang rakyat

Tapi juga bicara tentang pemimpin

Setelah bicara tentang rakyat

Apa katanya tentang pemimpin

Mari dengarin

Pemimpin berarti memberi contoh

Dan teladan dalam segala perbuatan

Tentu saja contoh yang diberikan

Contoh yang di tauladankan oleh pemimpin

Yang baik-baik dan bijaksana

Bukan sebaliknya

 

Dapatkah anda membayangkan

Hari ini

Pada tahun 2004 ini

Tiba-tiba

Anda menerima surat

Dari Menumbing

Dari seseorang yang anda kenal

Bahkan tulisannya pun anda hafal

Bertahun 1949

Surat dari seseorang

Yang sederhana

Hemat dalam bicara

Yang pernah memimpin negeri ini

 

                           

Toboali-Pangkal Pinang, 4 mei 2004

 

 

BELINYU  1946

 

Bumi hanguskan Belinyu

Begitu perintah terdengar

Lewat telepon hari itu

Yang menerima perintah singkat itu

Segera tahu

Karena Kota Belinyu

Kota pertahanan terakhir TKR ketika itu

 

Bumi hanguskan Belinyu

Begitu singkat perintah itu

Tapi terdengar

Bagai suara petir menyambar-nyambar

Tapi yang menerima perintah tak gentar

Bahkan faham dan sabar

Karena segera mengerti

Ini pasti untuk antisipasi

Agar NICA tak akan menduduki

Tempat penting diwilayah ini

Agar kantorpos tak mereka kuasai

Agar Pusat pembangkit listrik

Dan  telepon tak mereka kuasai

 

Pangkalpinang, 26 Oktober 2004

 


 

SUNGAI RANGKUI SUNGAI KENANGAN

 

 

Sungai Rangkui seperti legenda 

Tinggallah dalam kenangan hamba

Berdiamlah di  sudut-sudut  mimpi

Seperti pertemuan kita pertama kali

Lewat pantun dan cerita lama

Lewat gambus dan lagu jenaka

 

Sungai Rangkui seperti nyanyian  indah

Janganlah gelisah dalam angan hamba

Tenanglah dalam relung-relung sunyi

Seperti pertemuan kita pertama kali

Lewat riak menempuh tepi

Lewat perempuan membasuh kaki

 

Sungai Rangkui sungai kenangan

Jangan biarkan

Ia pergi dari mimpi

Jangan lepaskan

Ia dari kenangan

Hanya karena ulah

Tangan serakah

Yang mengirim luka dan nanah

 

Sungai Rangkui sungai kesayangan

Telah tersimpan dalam kenangan

 

 

Pangkalpinang, 7 Maret 2005

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: