A. Hasjmy

A HASJMY adalah sastrawan Aceh yang termasuk salah seorang tokoh Angkatan Pujangga baru. Dia dilahirkan di Aceh Besar, pada tanggal 28 Maret 1914 dan meninggal di Banda Aceh tanggal 18 Januari 1998.  A. Hasjmy adalah seorang pemeluk agama Islam yang taat. Dia memulai pendidikannya dengan sekolah agama, tamat sekolah  Thawalib di Padang Panjang Sumbar tahun 1935, dan kemudian melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara Medan tahun 1952—1953. Pernah menjadi guru Perguruan Islam di Seulimum, pemimpin umum Aceh Shimbun, kemudian Semangat Merdeka.

Pria yang pernah menjabat Gubernur Aceh (1957—1964) ini, berhasil membangun kota Pendidikan Darussalam yang di dalamnya berdiri dua Lembaga Pendidikan Tinggi yaitu Universitas Syiahkuala dan IAIN Jami’ah Ar-Raniry Darussalam. A Hajmy di samping sebagai seorang sastrawan juga seorang Ulama, Budayawan, Birokrat, Politikus, dan Tokoh Pendidikan Aceh. Namun dari sekian banyak jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya, A Hasjmy lebih mementingkan dunia pendidikan. Dia berprinsip dengan majunya dunia pendidikan akan dapat mengubah kehidupan anak negeri ke arah yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup. Pendidikan adalah mercu suar dari kemajuan suatu bangsa. Sebagai seorang intelektual beberapa jabatan pernah dipercayakan kepadanya antara lain; Ketua Lembaga Sejarah Aceh (1969), Rektor IAIN Jami’ah Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, Ketua dan Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA), dan Ketua Majelis Ulama DI Aceh. Sejak tahun 1976 ia menjadi guru besar ilmu dakwah pada IAIN Jami’ah Ar-Raniry Darussalam.

Dia telah mengarang tidak kurang dari 40 buku, meliputi Seni Budaya, Sejarah, Politik, Tata Negara, Dakwah dan Pendidikan, diantaranya; Kisah Seorang Pengembara (1936), Sayap terkulai (1936), Bermandi Cahaya Bulan (1937), Melalui Jalan Raya Dunia (1939), Dewan Sajak (1940), Suara Azan dan Lonceng Gereja (1940), Di Bawah Naungan Pohon Kemuning (1940), Puisi Islam Indonesia (1940), Dewi Fajar (1940), Kesusastraan Indonesia dari Zaman ke Zaman (1951), Rindu Bahagia (1960), Asmara dalam Pelukan Pelangi (1963), Semangat Kemerdekaan dalam sajak Indonesia (1963), Jalan Kembali (1964), Hikayat Perang Sambil Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda (1971), Ruba’i Hamzah Fansyuri (1976), Tanah Merah (Digul Bumi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia) (1980), Sejarah Kebudayaan Islam, Dibawah Pemerintahan Ratu, Sumbangan Kesusastraan Aceh dalam Pembinaan Kesusastraan Indonesia, dan Semangat Merdeka (1985).

Setengah Jalan

Antara kaki dan puncaknya

di situ daku duduk sebentar,

melepaskan lelah badanku penat,

di sebelah kanan karang semata,

di arah kiriku sekar-belukar,

di mukaku tubir curam sangat.

 

Mataku mencari tamsil kiasan,

melihat-lihat penawar hati,

memandang-mandang penuntun hajat,

terpandang semut berarak-arakkan,

naik mendaki ke batu tinggi,

dengan gagahnya menuju minat.

 

Terlebih lagi di batu lain,

seekor semut membawa makanan,

lebih besar dari badannya,

dengan mulutnya dihalau rajin,

ditarik ke atas perlahan-lahan,

digonggong ke arah tempat sarangnya.

 

Dari dalam datang mendayu,

suara jiwaku mencipta ilham:

“Bahagialah siapa suka meniru,

mengambil ibarat perjuangan alam!”

 

1936


Satu Tanggapan

  1. tolong post kan semua kumpulan puisi karya Ali Hasjmy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: