A.A.Manggeng

ASNAWI AIDA MANGGENG (A.A.MANGGENG) adalah sastrawan Aceh yang terkenal karena bakat seninya yang serba bisa baik sebagai; aktor panggung teater, sutradara, dan sekaligus penyair. Dia dilahirkan tanggal 10 Februari 1964, di Nanggroe Aceh Darussalam. Berpendidikan SPK spesialis jiwa, Bogor (1988). Pernah bekerja di Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh.   

Tulisan-tulisannya telah tersebar diberbagai media massa di Aceh, Medan, dan Jakarta, seperti; The Jakarta Post, Waspada, Serambi Indonesia, dan Dunia Wanita. Karyanya terkumpul dalam L.K.Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), antologi puisi dan lukisan Dalam Beku Waktu (2002), antologi sastra Putroe Phang ( 2002).

Penyair yang sehari-hari bekerja sebagai Sekretaris Eksekutif di Dewan Kesenian Aceh ini (2000—2004), juga aktif di teater Mata dan dipercaya sebagai koordinator program. Selain itu juga dipercaya sebagai editor beberapa buku sastra seperti; antologi puisi HAM Keranda-Keranda (ELSAM Jakarta), Kumpulan Cerpen Remuk (DKB), Kumpulan Essai; Takdir-Takdir Fansury (DKB). Sekarang bertempat tinggal di jalan Kakap nomor 25 Banda Aceh-23216, telepon 0651 28960, 25886.

 

          Yang Hilang di Musim Badai

         

          Aku cari engkau saudaraku yang sudah lama tidak kembali

          apakah musim badai tanah rencong ini

telah mendekapmu di penjara-penjara rahasia

 

suara tidak selalu menjadi kata, saudaraku

untuk itu ingin kupastikan nurani atas kehilanganmu

apakah engkau mendengarnya dari sukma bumi

yang bernafaskan air mata

 

saudaraku,

hujan dan cahaya kunang-kunang

memberi isyarat duka cita atas kepergianmu

jangan kuburkan kebenaran, saudaraku

hanya karena keterpaksaan

bersuaralah meskipun tak jadi kata

kami mendengarnya di musim gugur daun-daun muda

berumahkan pepohonan tumbang yang tercabut akarnya

 

pastikanlah saudaraku

jika engkau bersama Tuhan menunggu pengadilan akhir riwayat

tinggal risau kami di jalan-jalan penuh gelagat

saat manusia memutuskan keadilan di meja hijau

adakah suaramu bergema dari kubur rahasia

sebab ada pertanyaan yang belum terjawab:

“berapa harga kemerdekaan dibanding nyawa?”

 

Aceh, 1991  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: